Tuesday, May 26, 2009

Doctor Fish, Ikan Pengelupas Kulit

Selasa, 26 Mei 2009 | 21:23 WIB

KOMPAS.com - Ikan Garra Rufa asal Turki atau yang biasa dikenal dengan
"The Doctor Fish" (Sang Ikan Doktor) yang selama ini dipamerkan di Sea
World Indonesia (SWI) berkhasiat menyembuhkan penyakit kulit.

Salah seorang supervisor SWI, Wahyu Setiono, di Jakarta, mengatakan,
ikan yang berukuran maksimal 14 cm tersebut mampu memberikan khasiat
terapi kerena memiliki enzim yang dapat menormalkan proses pembaruhan
kulit dari hasil sekresi ikan pada saat menggigit.

"Ikan ini sebagai ikan pembersih karena hanya memakan daerah kulit yang
mati atau terinfeksi, dan meninggalkan kulit yang sehat terus tumbuh,"
katanya.

Menurut Wahyu, pihaknya saat ini telah menyediakan dua kolam khusus bagi
pengunjung WSI yang ingin terapi dengan menggunakan ikan Garra Rufa.

Setiap kolam yang diisi 1.500 ikan Garra Rufa digunakan untuk enam
orang. "Pada saat kaki dimasukkan ke dalam kolam, ikan tersebut langsung
menggigit. Tapi tidak sakit kok, hanya pertamanya geli, tapi seterusnya
enak," ujarnya.

Ketika ikan itu menggigit, lanjut dia, ikan tersebut mengeluarkan enzim
unik bernama dithranol (anthralin) yang dapat menghambat pertumbuhan sel
kulit yang terlalu cepat. Oleh karena itu, gigitan ikan itu dipercaya
dapat membantu mereka penderita penyakit kulit seperti psoriasis.

Selain itu, manfaat dari terapi tersebut di antaranya mampu memproses
eksfoliasi (pengelupasan kulit mati) yang lebih alami dan organik,
meningkatkan penyerapan kelembaban kulit, memperlancar sirkulasi darah,
mengurangi dan mengaburkan bekas luka, membantu peremajaan kulit,
membuat kulit lebih halus dan bersih dan lainnya.

Bagi para pengunjung yang mencoba terapi tersebut dikenakan tarif
tambahan senilai Rp30 ribu dengan durasi waktu selama 20 menit.

"Pengunjung yang ikut terapi ini setiap harinya lumayan banyak. Bahkan
kalau hari libur di atas seratus orang," katanya.

SPA Garra Rufa ini awalnya hanya sebatas di negara Turki, namun kini
berkembang di negara-negara lain seperti China, Jepang, Korea Selatan,
Singapura dan Malysia.

Salah seorang pengunjung yang ikut terapi, Adi, mengatakan gigitan ikan
Garra Rufa awalnya seperti disengat listrik. "Kayak disengat listrik,
tapi lama ke lamaan kaki rasanya enak dan pegal-pegal menjadi hilang,"
katanya.


Sumber : Antara

Saturday, May 23, 2009

Alat Pendeteksi Alzheimer Ditemukan

By Republika Newsroom
Senin, 18 Mei 2009 pukul 10:38:00

CHICAGO-- Peneliti Amerika Serikat telah mengembangkan temuan yang
secara akurat yang dapat memprediksi gejala alzheimer pada orang berusia
65 dalam waktu enam tahun.

Daftar dari faktor risiko seperti kelambatan berpikir atau bergerak
diduga terjadi hampir setengah dari penderita demensia yang berkembang
pada sekelompok orang usia tua selama enam tahun, lapor para peneliti
dalam jurnal Neurology.

Diperkirakan 26 juta orang di dunia menderita Alzheimer dan yang paling
banyak dari demensia. Penyakit ini ditandai dengan gejala menurunkan
memori dan mengalami kelinglungan yang akan menjadi lebih parah seperti
hilangnya ingatan dan tidak memiliki kemampuan untuk menjaga diri sendiri.

Peneliti dari University of California, San Francisco, Deborah Barnes
mengatakan dirinya memiliki alat yang dapat memprediksi meningkatnya
resiko alzheimer untuk membantu para dokter mengawasi pasien dan
membantu perusahaan mengembangkan obat sebagai penanganan sejak dini
gejala gangguan pikiran yang belum ada pengobatan dan perawatan yang
efektif.

"Alat deteksi ini bisa menjadi sangat penting untuk penelitian dan untuk
orang-orang beresiko menderita demensia dan keluarga mereka," ungkap Barnes.

Alat ini terdiri dari 15-point skala dengan beberapa faktor risiko untuk
Alzheimer untuk lanjut usia, skor rendah pada tes kemampuan berpikir,
dan memiliki ApoE4 gene, yang menimbulkan risiko genetik meningkatkan
alzheimer.

Pada alat ini juga terdapat petunjuk faktor resiko yang jarang ditemui
seperti kekurangan berat badan, memiliki sejarah operasi bypass jantung,
tidak minum alkohol atau menjadi lambat untuk melakukan tugas-tugas
fisik seperti mengancingi baju.

Orang dengan skor 8 atau lebih tinggi dianggap berisiko tinggi demensia
dalam waktu enam tahun.

Untuk mengembangkan indeks, tim peneliti melibatkan 3.375 orang, dengan
rata-rata usia 76 dan tidak menderita demensia. Setelah enam tahun, 480
orang ternyata mengalami demensia.

Para peneliti kemudian melakukan pengamatan untuk melihat faktor apa
yang sangat berpotensi meningkatkan resiko demensia.

Ketika mereka mengevaluasi grup yang sama dengan menggunakan daftar,
mereka menemukan 56 persen dari mereka yang memiliki nilai tinggi
menderita demensia dalam waktu enam tahun. 23 persen dengan nilai
tengah-tengah dan hanya empat persen dengan skor rendah. Secara
keseluruhan, 88 persen hasilnya benar dari para peserta.

Barnes mengatakan, risiko indeks perlu dikonfirmasikan dengan penelitian
lainnya. Barnes dan timnya akan meneliti versi yang lebih sederhana dan
akurat. (reuters/cr1/rin)

Wednesday, May 20, 2009

H1N1 pada Babi Kanada = H1N1 yang Menular Sekarang

Senin, 18 Mei 2009 | 19:51 WIB

OTTAWA, KOMPAS.com - Virus flu babi H1N1 yang ditemukan pada babi yang
terinfeksi di satu peternakan Kanada sama dengan virus yang menimbulkan
penyakit pada manusia di seluruh dunia, demikian konfirmasi beberapa
ilmuwan Kanada.

Para ilmuwan dari National Center for Foreign Animal Disease (NCFAD),
Canadian Food Inspection Agency (CFIA), telah memetakan rangkaian
genetika penuh virus yang ditemukan pada babi dari Alberta dan
mengkonfirmasi bahwa virus pada babi yang terinfeksi itu sama dengan
yang ditemukan pada manusia, kata CFIA dalam siara pers di laman
Internetnya, penghujung pekan lalu.

Sebagian dari 2.300 babi di peternakan tersebut didapati terinfeksi
virus baru pada awal Mei. Virus itu diduga menular dari seorang pekerja
yang baru kembali dari Mexico.

Saat para ilmuwan sedang berusaha menyelidiki virus baru itu,
perkembangan tersebut akan membantu para ilmuwan di seluruh dunia untuk
lebih memahami virus itu dan dampaknya pada hewan, kata CFIA.

Para peneliti kini memusatkan perhatian pada cara virus flu babi H1N1
mempengaruhi hewan tersebut.

Kendati studi lebih lanjut diperlukan, penelitian awal menunjukkan bahwa
hewan yang terinfeksi jatuh sakit dan pulih secara alamiah, sama seperti
kondisi mereka jika terpajan (exposed) terhadap virus influensa yang
umum ditemukan pada ternak babi di tingkat global, kata lembaga tersebut.

Penelitian yang sedang dilakukan oleh CFIA meneliti apakah hewan lain
mudah terserang virus itu atau tidak. Informasi tersebut mungkin
dimanfaatkan guna menyaring tindakan pemantauan dan pencegahan penyakit.

Berbagai studi juga sedang dilakukan guna menilai keefektifan vaksin
saat ini, dan mengembangkan metode diagnosis yang lebih baik dan lebih
cepat.

ABD

Menkes Serukan Penuntasan Mekanisme Baru Pembagian Virus,PRI

Rabu, 20 Mei 2009 | 16:58 WIB

JENEWA, KOMPAS.com - Indonesia mendesak disepakatinya mekanisme baru
virus sharing, pada World Health Assembly (WHA) ke-62. Desakan ini
disampaikan dalam sambutan Menteri Kesehatan, Dr. dr. Siti Fadilah
Supari, Sp.Jp(K) yang membuka hari kedua WHA, tanggal 19 Mei 2009.

Sebelumnya Intergovernmental Meeting – Pandemic Influenza Preparedness
(IGM-PIP) pada 14-15 Mei menjelang WHA, telah menyepakati sebagian besar
butir-butir pembahasan namun masih menyisakan pembahasan isu-isu
sensitif terkait virus sharing.

"Padahal, mekanisme kesiapsiagaan pandemi H1N1 saat ini semakin
menguatkan sinyal perlunya perombakan sistem surveilans influenza dan
adanya mekanisme berbagi virus yang adil dan transparan yang
mengintegrasikan benefit sharing," kata Menteri.

Menteri Kesehatan menyoroti sikap WHO yang tidak melakukan upaya
proaktif, tepat waktu serta sistematis dalam merekomendasikan
negara-negara yang memiliki kapasitas produksi untuk memulai produksi
suplai antivirus generik. Padahal di saat yang sama, negara-negara maju
telah menandatangani perjanjian dengan produsen vaksin untuk memastikan
mereka mendapat produksi vaksin pandemi secara langsung dan lebih dulu,
suatu hal yang merugikan serta menimbulkan risiko bagi negara-negara
berkembang.

"Belum lagi, banyak negara maju yang telah memiliki kontrak di muka
untuk mengamankan lebih dari 200 juta dosis vaksin flu pandemi, atau
sekitar lebih dari setengah produksi vaksin flu musiman saat ini. Kalau
sudah begini, apa yang tersisa bagi negara-negara berkembang?," kata
Menteri.

Menteri juga mengkritik ditingkatnya kewaspadaan pandemi dari 3 ke 4,
lalu ke 5, dan kemudian mengumumkan semakin dekatnya pandemi flu baru
H1N1. Padahal walau penyebaran H1N1 sangat serius dan meluas, flu baru
H1N1 ini memiliki tingkat kematian yang rendah sekitar kurang dari 2
persen, angka yang sangat jauh jika dibandingkan angka kematian akibat
flu musiman.

Untuk itu, Menteri juga mendesak WHO adanya redefinisi kriteria
penentuan tingkat kewaspadaan pandemi. "Akan lebih akurat lagi jika WHO
meredefinisi penentuannya dengan mempertimbangkan pula indikator klinis
(angka kasus dan kematian) dan indikator sekuens genetik (tinggi atau
rendahnya patogenetik dari virus), tidak hanya tingkat penularannya,"
tambahnya.

Banyak kemajuan telah dicapai sejak IGM-PIP Desember lalu, untuk
membentuk kerangka dan Standard Material Transfer Agreement (SMTA),
serta pembentukan Advisory Mechanism dan Influenza Virus Traceability
Mechanism dengan telah disetujuinya sebagian besar butir-butir kesepakatan.

Jika telah disahkan dan berkekuatan hukum SMTA akan merubah secara
radikal tatanan penggunaan virus yang berlaku selama 62 tahun ini, dalam
sebuah kerangka yang lebih adil transparan dan setara. Dan akan membuka
akses terhadap virus influenza, yang berarti membuka peluang besar untuk
para peneliti negara berkembang untuk meningkatkan kapasitas
penelitiannya sehingga Indonesia dan negara berkembang lainnya dapat
mengembangkan alat diagnostik, vaksin dan obat obatan terhadap virus flu
burung dan virus lainnya yang berpotensi pandemi, termasuk H1N1,
sehingga kapasitas penelitian dan produksi vaksin tidak terbatas pada
beberapa negara maju saja..

"Upaya bersama kita dalam mewujudkan mekanisme baru yang adil,
transparan dan setara ini sangat penting dan dapat dilaksanakan untuk
memastikan isu-isu kunci tertuntaskan pada WHA ini, dalam rangka
memberikan solusi dan perlindungan jangka panjang bagi kesehatan publik
global," kata Menteri Kesehatan.

WHA merupakan sidang tertinggi dari Badan Kesehatan Dunia PBB atau WHO
(World Health Organization) yang bersidang sekali dalam setahun setiap
bulan Mei di Jenewa, Swiss.

Intergovernmental Meeting on Pandemic Influenza Preparedness (IGM - PIP)
adalah sebuah proses pertemuan Negara anggota yang diselenggarakan
Sekretariat WHO untuk memfinalisasi negosiasi mengenai sistem baru virus
sharing influenza H5N1 dan benefit sharing timbul dari penggunaan virus
dan bagian-bagiannya.

ABD

Monday, May 18, 2009

Selera Makan Anak Terbentuk Sejak dalam Kandungan?

Senin, 18 Mei 2009 | 18:03 WIB

KOMPAS.com - Kita tahu bahwa pilihan kita terhadap makanan diawali sejak
masih anak-anak. Namun setujukah Anda dengan pendapat bahwa apa yang
kita makan selama hamil atau menyusui dapat mempengaruhi pilihan makanan
anak setelah lahir?

Sering dikatakan bahwa makanan yang kita makan saat kecil akan menjadi
makanan kesukaan kita ketika dewasa. Studi menunjukkan bahwa wanita
mampu menularkan pilihan makanan yang disukainya ke anak-anak, baik yang
masih berada di dalam kandungan maupun yang sedang menyusu. Kondisi ini
membuat anak cenderung memilih makanan tertentu.

Monell Chemical Senses Center di Philadelphia melakukan salah satu studi
terbaiknya pada tahun 2000. Mereka mensurvei 46 wanita hamil, dan
membaginya dalam tiga kelompok berbeda. Satu grup mengonsumsi jus wortel
selama trimester terakhir dalam kehamilan mereka dan air putih selama
menyusui; grup yang lain minum air selama trimester akhir dan jus wortel
selama menyusui; sedangkan grup terakhir hanya meminum air putih
sepanjang masa tersebut.

Setelah anak-anak mereka lahir, para peneliti memberikan dua ramuan
sereal, satu dibuat dengan jus wortel, dan satu lagi dengan air putih.
Peneliti memonitor dan mengukur berapa banyak sereal yang dikonsumsi
bayi, dan merekam reaksi mereka. Bayi yang "menikmati" jus wortel saat
menyusu atau saat masih berada dalam kandungan memakan lebih banyak
sereal dengan rasa wortel, ketimbang bayi yang tidak merasakan jus
wortel saat masih di dalam kandungan atau menyusu. Ketika para peneliti
memperhatikan ekspresi para bayi, bayi yang hanya mengonsumsi air putih
selama penelitian berlangsung menampilkan ekspresi negatif saat diberi
makan sereal rasa wortel. Sedangkan bayi yang sudah mengenal rasa wortel
akan menampilkan ekspresi seperti biasanya.

Penelitian lain ternyata mendukung kesimpulan ini; mendapati bahwa
selera ternyata dapat disalurkan melalui plasenta ke janin atau melalui
ASI kepada bayi. Sebagai contoh, sebuah studi yang diadakan di Perancis
mengindikasikan bahwa anak-anak dari ibu yang mengonsumsi minuman rasa
adas saat menyusui tidak akan anti dengan rasa adas ketimbang anak-anak
lain. Penelitian sejenis juga menunjukkan bahwa rasa aromatik seperti
bawang merah, bawang putih, dan vanila, yang terkandung dalam ASI dapat
memberikan kecenderungan pada anak untuk menyukai cita rasa tersebut.
Apa yang dimakan ibu dapat mengalir ke ASI-nya selama maksimal 8 jam,
jadi jika makanan ini dikonsumsi secara rutin tentu pengaruhnya juga
lebih besar.

Nah, sekarang Anda tak perlu heran mengapa Si Kecil juga menyukai,
misalnya, semua jenis ikan seperti Anda. Dengan demikian, seorang ibu
sebenarnya dapat membentuk anaknya untuk menyukai makanan sehat dan
menjauhkan mereka dari junk food. Setidaknya, secara teori. Sebuah studi
menunjukkan bahwa bayi yang mengonsumsi makanan padat dan menyusu tidak
akan makan buncis sampai sang ibu mulai memperkenalkan makanan tersebut
pada menu makan anaknya. Hal ini menunjukkan bahwa seorang ibu dapat
membantu memperkenalkan makanan yang "tidak enak" ke dalam menu makan
anaknya. Dengan sendirinya hal ini juga membenarkan istilah "makan untuk
dua orang" ketika porsi makan Anda bertambah ketika hamil.

Namun, para ibu juga dapat menimbulkan masalah kesehatan. Studi pada
hewan menunjukkan bahwa tikus banyak makan makanan yang tinggi kadar
gula, garam, dan lemak, selama bunting dan menyusui. Anak-anak tikus pun
mempertajam kecenderungan akan makanan yang berlemak, mengandung garam
dan gula.

Makanan yang dikonsumsi ibu hamil dan menyusui dapat juga menimbulkan
variasi makanan yang disukai anak. Hal ini mungkin tidak akan menentukan
pola makannya sepanjang hidupnya, namun jika Anda ingin memiliki anak
yang tidak susah makan sayur, kini Anda tahu bagaimana caranya.

DIN
Sumber : divinecaroline

Sunday, May 17, 2009

Mengapa Gorengan Picu Kanker

Minggu, 17 Mei 2009, 21:17 WIB
Hadi Suprapto

VIVAnews – Sejumlah penelitian menyatakan gorengan sangat cepat memicu
tumbuhnya kanker pada organ tubuh manusia. Karena itu, dokter selalu
menganjurkan menghindari makan gorengan.

Sebenarnya, minyak dibutuhkan dalam metabolisme tubuh. Dalam sehari,
tubuh membutuhkan minyak 5-10 mililiter.

Seperti dikutip laman RumahKanker.com, Minggu 17 Mei 2009, mekanisme
gorengan memicu kanker diawali dari makanan kaya karbohidrat seperti
kentang, nasi, singkong, ubi, dan pisang yang dipanaskan.

Pada 2002, seorang peneliti kanker, Eden Tareke dari Universitas
Stockholm, Swedia, mengumumkan hasil penelitiannya. Ia menemukan
akrilamida, bahan pemicu kanker yang terbentuk pada makanan yang dipanaskan.

Menurut penelitian itu, makanan kaya karbohidrat jika digoreng akan
terurai, kemudian bereaksi dengan asam amino menghasilkan senyawa
karsinogenik (pemicu kanker) yang bernama akrilamida.

Hal yang sama juga terjadi pada makanan yang dipanggang. Sedang makanan
mentah yang direbus, atau dikukus tidak mengalami reaksi semacam itu.
Kalau pun ada, kadarnya sangat kecil.

Penelitian terhadap tikus percobaan menunjukkan, akrilamida menimbulkan
tumor, merusak DNA, merusak syaraf, mengganggu tingkat kesuburan, dan
mengakibatkan keguguran. Seporsi kentang goreng yang dimasak pada suhu
220 derajat celcius mengandung akrilamida kurang-lebih 2.500 mikrogram.
Pada tikus percobaan, jumlah ini sudah menimbulkan mutasi gen.

Menggoreng Sendiri adalah salah satu kiat sehat makan gorengan. Dengan
menggoreng sendiri, Anda dapat menggunakan minyak baru. Minyak yang
belum pernah dipakai masih terbebas dari akrilamida maupun zat-zat
pemicu kanker lainnya.

Selain itu, usahakan menggoreng dengan api sedang, dengan suhu rata-rata
180 – 220 derajat celcius. Semakin rendah suhunya, semakin sedikit bahan
pemicu kanker yang terbentuk.
• VIVAnews

Gunung Slamet Bergetar Keluarkan Suara Gemuruh

Jumat, 15 Mei 2009 | 16:06 WIB

BANYUMAS, KOMPAS.com — Warga di Desa Ketenger, Kecamatan Baturaden,
Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mulai merasakan naiknya aktivitas
Gunung Slamet dalam beberapa hari terakhir.

"Kami mulai merasakan adanya getaran dan mendengar suara gemuruh dari
Gunung Slamet. Bahkan, suara gemuruh tersebut tidak hanya terdengar pada
malam hari tetapi juga di siang hari," kata Untung Wahyono (31), warga
Desa Ketenger, Jumat. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak
diinginkan, kata dia, warga meningkatkan aktivitas ronda malam.

Getaran yang diakibatkan oleh peningkatan aktivitas Gunung Slamet juga
dirasakan warga di Desa Binangun, Kecamatan Mrebet, Kabupaten
Purbalingga. Seorang warga Desa Binangun, Amin Haryanto (39),
mengatakan, getaran tersebut mulai dirasakan sejak lima hari lalu.

"Baru-baru ini saja kami merasakan adanya getaran dan mendengar suara
gemuruh. Padahal sejak status Gunung Slamet ditingkatkan menjadi siaga
pada 23 April lalu, kami belum pernah merasakan getaran maupun mendengar
suara gemuruh," katanya.

Menurut dia, warga mulai khawatir dengan adanya kondisi tersebut karena
sejumlah binatang buas seperti babi hutan mulai memasuki perkampungan.
Pada bulan yang sama tahun lalu, kata dia, tidak pernah dijumpai adanya
binatang buas yang keluar dari hutan Gunung Slamet.

"Saat ini hewan-hewan itu mulai turun, antara tiga sampai empat ekor,"
katanya.

Koordinator Komunitas Peduli Slamet (Komplet) Purwokerto Sungging
Septivianto mengakui, banyak masyarakat yang memberikan informasi
seputar kondisi alam di sekitar Gunung Slamet saat ini. Meski demikian,
kata dia, pihaknya mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan waspada
terhadap kemungkinan yang terjadi.

"Dalam beberapa hari terakhir ini, sejumlah fenomena alam memang muncul.
Namun, kami hanya bisa meminta masyarakat untuk tenang tetapi waspada
terhadap kemungkinan yang terjadi," katanya.

Sementara itu, pengamat Gunung Slamet di pos pemantauan Gambuhan,
Kecamatan Pulosari, Pemalang, Luruh Nurkholis mengatakan, hingga saat
ini status Gunung Slamet masih siaga.

"Kalau frekuensi letusannya menurun, hanya tinggal 13 kali dengan
ketinggian 25-50 meter. Namun kegempaan masih tinggi mencapai 139 kali
dengan kekuatan 30-335 MMI," katanya.

WAH
Sumber : Antara

Anak Krakatau Keluarkan Semburan Pijar

KOMPAS/ANITA YOSSIHARA
Rabu, 13 Mei 2009 | 17:41 WIB

SERANG, KOMPAS.com - Sepanjang Rabu dinihari Gunung Anak Krakatau di
perairan Selat Sunda, Provinsi Lampung, mengeluarkan semburan pijar
berupa lontaran bebatuan berwarna kemerahan dengan suhu mencapai 2.500
derajat celcius.

Petugas Pengamat Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Pasauran,
Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Dani Hamdani, Rabu, membenarkan
bahwa pada pada dinihari letusan dan kegempaan Gunung Anak Krakatau
mengeluarkan semburan pijar berupa bebatuan disertai suara dentuman
sebanyak 22 kali.

Semburan pijar itu terlihat jelas di pos pemantauan di Desa Pasauran
Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang yang jaraknya mencapai 42 kilometer.
Menurut dia, semburan pijar itu akibat meningkatnya frekuensi aktivitas
letusan dan kegempaan dalam perut Gunung Anak Krakatau.

Oleh karena itu, pihaknya melarang pengunjung dan nelayan mendekati
kawasan tersebut karena sangat berbahaya. "Bayangkan, jika terkena
lontaran bebatuan itu, kulit akan melepuh," ujarnya.

Dia menyebutkan, pihaknya hingga saat ini terus melakukan pemantauan dan
pengawasan menyusul peningkatan status "siaga" atau level III dari
sebelumnya waspada atau level II.

Sementara itu, Hilman (45) pengelola obyek wisata di Pantai Anyer
mengaku, saat ini banyak pengunjung ingin melihat secara langsung
keindahan pijar berupa bebatuan krikil berwarna kemerah-merahan yang
dilontarkan dari letusan Gunung Anak Krakatau pada malam hingga dinihari.

"Saya kira letusan Gunung Anak Krakatau memiliki daya tarik sendiri
karena berada di tengah lautan juga bisa mendatang wisatawan domistik
maupun mancanegara," ujarnya.

Thursday, May 14, 2009

Zat pada Ludah Manusia Dapat Percepat Penyembuhan Luka

26-07-2008

Para peneliti Belanda telah mengidentifikasi satu zat di dalam air ludah manusia yang mempercepat penyembuhan luka, demikian laporan mereka yang disiarkan Rabu di The Journal of Federation of American Societies for Experimental Biology (FASEB).

Tim peneliti tersebut mendapati bahwa "histatin", protein kecil di dalam air ludah yang sebelumnya hanya dipercaya membunuh bakteri bertanggung-jawab atas penyembuhan luka.

Penelitian itu mungkin menawarkan harapan kepada orang yang menderita luka kronis yang berhubungan dengan diabetes dan gangguan lain, serta luka traumatis dan luka bakar. Selain itu, karena zat tersebut dapat diproduksi secara massal, zat tersebut memiliki potensi untuk menjadi sama umumnya dengan krim antibiotik dan alkohol gosok.


Selengkapnya

Wednesday, May 13, 2009

Deptan Kembangkan Bibit Kopi "SE"

KOMPAS/HELENA F NABABAN
Senin, 11 Mei 2009 | 00:23 WIB

JAKARTA,KOMPAS.com-Departemen Pertanian (Deptan) melalui Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia pada 2010 siap mengembangkan bibit kopi secara "Somatik Embriogenesis" (SE) setelah sukses dengan kakao sejak 2008.

Dirjen Perkebunan Deptan, Achmad Mangga Barani di Jakarta, Minggu (10/5) mengatakan, pengembangan bibit kopi melalui sistem SE tersebut akan difokuskan pada kopi yang berkualitas tinggi dan spesial daerah.

"Selain untuk mendapatkan bibit yang berkualitas, ini sekaligus untuk melindungi komoditas asli daerah," katanya.

Menurut dia, beberapa jenis kopi yang akan dikembangkan bibitnya melalui somatik embriogenesis yakni Kopi Kintamani di Bali, Kopi Takengon dan Mandailing di Sumatera Utara, Kopi Gayo di Aceh. Selain itu, tambahnya, di Sulawesi Barat untuk Kopi Toraja sedangkan untuk Papua yakni Kopi Wamena dan Mona-mani. "Jenis-jenis kopi tersebut sudah memiliki nilai pasar yang bagus di dunia internasional," katanya.

Sementara itu Kepala Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember Teguh Wahyudi mengatakan, pada tahun ini pihaknya siap mengembangkan kopi jenis robusta dengan metode SE sebanyak 500 ribu bibit.

Sebelumnya di hadapan anggota Komisi IV DPR RI, dia mengatakan, Puslit Koka Indonesia di Jember, Jawa Timur, dalam tahun 2009 menyiapkan 20 juta lebih bibit kakao melalui metode SE untuk sembilan provinsi. Untuk itu, tambahnya, Puslit sudah menyiapkan 21 hektare (ha) untuk 20 juta lebih bibit kakao untuk tahun 2009.

Pada 2008 Puslit Koka berhasil menyiapkan 1,6 juta bibit kakao yang didistribusikan di lima provinsi di luar Pulau Jawa seperti Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Timur, Bali dan Maluku. Menurut dia hingga awal Mei 2009 sudah tersedia 7,5 ha yang sudah ditanami bibit kakao dengan jumlah bibit sebanyak tujuh juta bibit.

ONO
Sumber : Ant

Komentar : Maksud dari somatik embriogenesis ini apa ya? Apa semacam kultur jaringan gitu?

Wednesday, May 6, 2009

Beton Anti-retak Dibantu Air Hujan

Nicole Casal Moore/University of Michigan
Rabu, 6 Mei 2009 | 04:39 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com - Masalah keretakan pada jalan atau jembatan beton yang sering terjadi jika ada gempa bumi mungkin teratasi dengan material baru yang dikembangkan para peneliti di Universitas Michigan, AS. Material tersebut tidak hanya membuat jalan beton lebih tahan tekanan namun juga anti-retak.

Bahan beton yang dicampur komposit itu menjadi lebih fleksibel. Saat mendapat tekanan yang tinggi, ia mampu melengkung tanpa mengalami keretakan. Kalaupun tejadi, retakannya akan berbentuk garis dan akan pulih dalam waktu singkat hanya dengan doguyur air, termasuk hujan misalnya.

Hal tersebut dapat terjadi karena material kering di bagian yang retak akan bereaksi dengan air hujan dan karbon dioksida dari udara. Reaksi tersebut membentuk kalsium karbonat, senyawa keras yang secara alami biasa ditemukan pada cangkang kerang.

"Material fleksibel ini akan kembali sekuat awalnya setelah dipulihkan," ujar Victor Li, salah satu anggota tim pembuatnya. Ia dan timnya telah 5 tahun melakukan riset beton fleksibel itu dan beberapa sudah digunakan.

Material sejenis sudah dipakai pada kerangka bangunan tertinggi di Osaka, Jepang. Selain itu, beton fleksibel juga sudah dipakai pada jembatan di Interstate 94 Michigan yang dibangun tahun 2006.

Meski demikian, harga beton felsiibel masih tiga kali lipat harga beton standar. Namun, karena lebih tahan tekanan dan getaran, pengembang bisa lebih hemat karena tak perlu memasang alat pendeteksi getaran seismik di sepanjang struktur.

"Penggunaan material ini akan menghemat dalam jangka panjang karena mengurangi ongkos perawatan," ujar Li.

WAH
Sumber : National Geographic News
Komentar : Nanti kalo umpama keretakannya udah pulih, apa itu berarti betonnya akan berubah bentuknya terus menerus?  Wah hebat ini baru terobosan di teknologi material.